Oke, bismillah, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oke, sudah siap semuanya? Siap ya, boleh dirapih-rapih lagi, kita akan masuk ke sesi berikutnya, yaitu bisnis model canvas. Tadi sudah di-spill sedikit ya, bahwa saat ini kita perlu ke...
Oke, mari sama-sama kita membukanya lagi dengan basmalah bersama-sama. Bismillahirrahmanirrahim. Dan kepada Coach Eka, dipersilahkan.
Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya perlu kenalan dulu kayaknya ya. Nama saya Eka Ahmad Fauzi. Bapak-Ibu sekalian bisa panggil saya Fauzi. Saya asli Cimahi, tapi sekarang tinggal di Kuningan. Asli Cibabat Cimahi Utara, tapi sekarang tinggal di Kuningan. Di Kuningan sudah kurang lebih 2 atau 3 tahun karena...
Alasan keluarga, pertama, mertua pada saat itu sakit. Kalaulah pun kami punya proyek di Kuningan, ada 5 hektare kawasan perumahan di sana yang kami kelola. Jadi, bismillah, bakti orang tua juga berkarya di sana, akhirnya pindah ke sana. Baru punya 5 orang anak. 5 orang anak di sana.
Baru punya lima orang anak, tiga ikhwan, dua akhwat. Yang pertama itu sekarang baru masuk Husnul, Alhamdulillah. Sore ini saya harus jenguk anak saya di Husnul, jadi mudah-mudahan zuhur selesai dan segera langsung meluncur ke sana. Yang kedua, ketiga, keempat SD, yang terakhir baru umur 45 tahun.
Kemudian apa ya, saya sekarang masih aktif di MES, masih diamanahi di MES Kota Cimahi sebetulnya, kemarin saya harusnya sudah dimisioner, sudah pindah ke pengurusan, tapi sekarang masih di situ, kemudian
Di asosiasi, saya juga diamanahi di Jawa Barat. Himpera itu asosiasi developer, asosiasi pengembang perumahan. Saya diamanahi sebagai wakil ketua. Kemudian di Cimahi juga masih diamanahi sebagai press cap. Harusnya ini harus segera berpindah nih sama teman-teman di Cimahi karena domisi saya sudah di Kuningan.
kemudian core bisnis saya di properti core bisnis saya di properti, jadi kami sudah punya 6 proyek yang sudah kami jalankan pertama itu di Depok
Yang kedua di Depok, yang ketiga di Bandung, Sariwangi. Yang keempat di Cimahi, belakang kantor pajak. Yang kelima itu di Kuningan. Dan yang terakhir itu di Subang. Kerjasama dengan Ashifa. Tahu ya Ashifa ya? Ashifa Subang.
di depok itu baru mulai dari 13 unit, 99 unit, kemudian di Bandung 8 unit, di Cimahi 20 unit, pindah ke Kuningan langsung hampir 400 unit, di Subang 200 unitan
Dan Alhamdulillah banyak sekali cerita, salah satunya tadi yang disampaikan oleh Bang Hamdi, bagaimana menghadapi warga masyarakat yang demo. Itu pengalaman yang luar biasa bagi saya, karena baru kali itu saya mendapatkan perasaan saya baik-baik saja, tapi pada saat itu merasa,
aduh saya orang yang gak baik ya, aduh saya orang yang diprotes, orang yang dikucilkan dan seterusnya bagaimana dengan kalau misalnya saudara-saudara kita yang posisinya di politik ya, jauh lebih berat kayaknya netizen di mana-mana gitu ya, luar biasa nah itu sekilumit
apa pengalaman saya nah sebelum jauh di antara teman-teman di sini yang sudah menjalani bisnis angkat tangan oke yang sudah lebih dari dua tahun angkat tangan yang sudah lebih dari lima tahun Masya Allah banyak 10 tahun
sedikit lagi, Masya Allah baik, Alhamdulillah Pak Ai yang paling senior kayaknya Pak Ai mah pembelajar luar biasa nih setiap training, setiap workshop muncul aja harusnya udah jadi guru disini Pak Ai
Baik, next. Kita akan bahas tentang apa bedanya model bisnis dengan strategi bisnis. Ada yang bisa menjelaskan model bisnis dengan strategi bisnis? Ada yang bisa membedakan model bisnis dengan strategi bisnis?
Ya, dengan siapa? Kang? Kang Dudi. Kang Dudi, ya. Oke.
oke yang model bisnis itu adalah merancang bagaimana bisnis itu berjalan kemudian kalau strategi itu cara untuk menjalankan bisnis itu jadi udah dirancang dulu kemudian bagaimana bisnis ini berjalan dengan baik itu ya oke ada lagi Kang Dodi ya ada lagi yang lain
Bedanya model bisnis dan strategi bisnis. Model bisnis itu membantu para pemilik serta profesionalnya menggagas bisnis di tingkat abstrak dan kemudian mengujinya di tingkat nyata.
jadi misal contoh jualan bala-bala itu harus dibayangin jualan bala-bala itu seperti bagaimana modelnya seperti apa sih jualan bala-bala
atau bisnis bala-bala itu kayak gimana gitu misalnya atau bisnis perumahan modelnya sih kayak gimana sih bisnis perumahan itu harus dibayangkan secara abstraknya seperti apa kemudian setelah kita bayangkan secara abstrak maka kita realisasikan itu model bisnis Nah kalau strategi bisnis setelah model itu tergambar dengan baik maka
Strategi bisnis itu disusun untuk membuat perusahaan berbeda secara strategis terhadap pesaingnya. Jadi kita punya bisnis apa nih? Ada yang mau dibahas bisnisnya?
Oh, fotografi. Kang Nuriana, Kang Nuriana punya bisnis fotografi. Modelnya kebayang, fotografi itu bisnisnya kayak gimana? Berarti ordernya dari sekolah misalnya, ordernya dari pernikahan misalnya, ada keluarga, dan seterusnya, atau dari kampus.
Kemudian caranya bisnis ini tersampaikan bagaimana ke customer kita, value-nya apa, dan seterusnya. Nah, yang punya bisnis itu banyak enggak?
Banyak, gak satu kita aja kan, gak satu Kang Nana aja Banyak, nah gimana caranya bisnis kita itu jadi winning, jadi menang, menjadi pemenang daripada bisnis-bisnis yang ada Nah itulah strategi bisnis Nah sekarang yang kita diskusikan adalah
model bisnisnya dulu sebelum nanti masuk ke strategi bisnis karena kita harus secara clear betul model bisnis kita itu seperti apa sih sehingga nanti kita menjalani bisnis itu sebaik mungkin kita nawarin kalau bisnis model kita enggak jelas kira-kira yakin enggak ke customer kita enggak ya maka kita harus ya lanjut kita harus clear betul tentang model bisnis kita
nah ini selanjutnya model bisnis bagaimana bisnis bekerja tapi strategi bisnis bagaimana bisnis itu winning atau menang lanjut next ya gak apa-apa lanjut ini menjelaskan yang tadi oke nah produk bisa menarik tapi kok kenapa bisnis tetap gagal
nah masalahnya sering bukan pada produknya melainkan hubungan antar elemen bisnis yang tidak bekerja produk kita keren nih
Kalau saya gambarin mungkin bisnis saya ya, perumahan kita kualitasnya bagus, daripada kompetitor yang lain kualitasnya oke Desainnya keren, lingkungannya, kawasannya luar biasa, value-nya berarti kan high value, tapi kok gak laku-laku
Bisa jadi yang masalah itu bukan di produknya, tapi setiap elemen yang membuat produk ini terjual dengan baik. Kita coba beda satu-satu. Siapa yang benar-benar membutuhkan? Kita punya produk, apakah produk itu dibutuhkan pasar atau enggak? Jangan sampai produk kita keren tapi pasar enggak butuh.
ya enggak produk kita keren pasal enggak butuh contoh kita jual rumah satu miliar di tempat yang kumuh
Kira-kira kejual gak? Produknya keren gak? Produknya keren ya, tapi di tempat yang kumuh. Maka dia gak masuk ke marketnya. Marketnya gak butuh di produknya keren tapi tempatnya gak keren. Maka yang 1 miliar itu harusnya ditempatkan di mana? Di pusat kota misalnya. Misalnya contoh ya. Kemudian
masalah apa yang paling penting? produk mungkin menarik tapi tidak menyelesaikan masalah yang mendesak produk kita menarik tapi kita tidak menyelesaikan masalah customer kita yang sangat mendesak contoh antara jajanan kecil
Di sekolah nih jajanan kecil dengan makanan besar kira-kira mana yang jauh lebih cepat lakunya? Makanan kecil. Kenapa? Karena istirahat anak-anak kan pendek ya. Yang mendesak itu makanan kecil atau makanan besar? Yang kecil. Karena jajanan-jajanan kecil yang pasti akan jauh lebih cepat lakunya. Jadi kita harus melihat nih produk kita menarik tapi menyelesaikan masalah yang paling mendesak enggak gitu.
kemudian berikutnya mengapa mereka mau membayar minat dan pujian belum tentu berubah menjadi transaksi mengapa mereka mau membayar itu kita harus cari tahu alasannya apakah produk kita menyelesaikan setiap permasalahan yang mereka punyai atau enggak produk kita
bagus dipuji orang, tapi kok enggak closing-closing? Kok bisa? Misalnya. Apakah menjawab permasalahan customer kita atau enggak? Itu harus kita cari.
Kemudian yang terakhir, bagaimana bisnis tetap untung? Harga, biaya, volume, dan arus kas harus saling mendukung. Next. Oke, kita mulai ya. Bisnis model kanvas. Kita akan menggambar model bisnis kita. Sudah disebar kartasnya ya? Sambil disebar ya. Nah,
Ini adalah kunci jika ingin menggunakan cara inovatif untuk melakukan hal yang baik dan melakukan hal dengan baik. Kita akan menggambar bisnis kita secara keseluruhan. Dan kita akan memastikan kita mengenal bisnis kita. Jangan sampai kita berbisnis tapi kita tidak mengenal bisnis kita. Kita akan coba mulai. Oke lanjut.
definisi bisnis model canvas. Bisnis model canvas adalah suatu alat manajemen strategis dan kewirausahaan. Alat ini membantu untuk mendeskripsikan, merancang, menantang, menemukan dan menentukan poros model mistis Anda. Lanjut. Nah, sudah dapat ya teman-teman ya.
kita disini punya 9 blok boleh nanti sambil mengisi ya supaya menyingkat waktu karena kita punya waktu hanya sampai 11.50 ini kalau ngebahas ini biasanya kalau ngebahas ini bisa dua hari ini kita cepat aja ya nanti kita dalemin saat diskusi ya
Kita punya 9 kolom, 9 blok. Ada yang kurang dari 9? Ada 9 blok ya. Yang pertama apa? Customer. Yang kedua itu? Value proposition. Yang ketiga channel. Yang keempat?
relationship, yang kelima revenue stream, yang ke-6 key research, yang ke-7 key activity, ke-8 key partner, dan terakhir cost structure. Kita akan bahas satu persatu. Ini kita bagi dua, ini bagian pertama, ini kita akan bahas bagian pertama sini, 1, 2, 3, 4, 5, ini bagian pertama.
ini goalsnya adalah mendapatkan revenue stream ini bagian awal ya goalsnya adalah mendapatkan closing mendapatkan apa aja yang ingin kita dapatkan di dalam bisnis ini bagian pertama kemudian bagian kedua adalah nomor 6, 7, 8, 9 goalsnya adalah ke cost structure kita akan melihat cost apa saja sih di dalam bisnis kita
Nah itu dua goalnya ya. Yang pertama kita akan mendapatkan revenue atau omsetnya dari mana saja. Goalsnya itu. Yang kedua goalsnya adalah cost yang keluar itu apa saja sih. Sehingga nanti kita akan mendapatkan hasil labanya akan didapatkan oleh kita berapa besar. Itu akan sangat clear nanti. Lanjut.
oke yang pertama pilih pelanggan yang paling membutuhkan yang pertama adalah pilih pelanggan yang paling membutuhkan menentukan kelompok orang atau organisasi yang akan dilayani dan diprioritaskan siapa pengguna utama siapa yang membayar siapa yang paling mendesak kebutuhannya
Ini antara, jadi intinya gini, kita mau nyasar siapa sih market kita itu? Kita mau nyasar siapa market kita itu? Nanti kita jelaskan lebih dalam. Kesalahan yang umum adalah yang dijawab semua orang. Misalnya contoh, tadi Kang Nenek,
Kang Suriana, misalnya fotografer ya, marketnya siapa? Semua orang. Wah, kemana-mana nih atun kek. Semua orang kek, anak kecil sampai yang paling tua, itu sangat akan tidak fokus.
Kita harus clear dengan bisnis yang sedang kita jalani itu marketnya siapa. Contohnya Netflix. Marketnya siapa? Individu dan keluarga pengguna hiburan digital yang menginginkan tontonan fleksibel, personal dan mudah diakses. Itu marketnya Netflix. Lanjut.
Nah kita coba gambarkan ya. Teman-teman bisa sambil mengisi itu nanti ya. Yang pertama, terdapat satu atau lebih segmen pelanggan. Terdapat satu atau lebih segmen pelanggan. Setiap segmen perlu pelayanan yang berbeda.
dicapai dengan saluran distribusi yang berbeda pastinya perlu tipe relationship yang berbeda ini nanti breakdown ke kolom yang selanjutnya memberikan profitabilitas yang berbeda kemauan bayar berbeda sesuai dengan nilai yang diterima ini nanti saya share bahannya gak perlu disambil ditulis gak apa-apa ya nah
segmen kita pun bisa bisa jadi dalam satu produk kita beda-beda misal contoh tadi selain fotografer ada lagi yang mau dibahas packaging packaging oke packaging sasarannya kira-kira segmen yang mau disasar mana saja bisa jadi apa aja coba pelaku usaha oke
Oke. Oke, pelaku usaha. Pelaku usaha produknya apa? Books packaging, maksudnya yang disasar pelaku usahanya yang punya produk apa saja? Oke. Oke.
Oke, nah itu ya, mulai ke gambar ya. Jadi segmen kita itu tadi pelaku usaha, nanti kita bisa fokuskan, mau kita fokus kemana, apakah semua pelaku usaha itu kita masukkan, atau kita fokus di beberapa market yang menurut kita itu menjadi pasar yang bisa kita kejar dan revenue-nya besar.
oke itu ya lanjut ini sambil traksi gak apa-apa ya kalau misalnya ada yang mau ditanyakan karena ini cepat saja jadi langsung toktakan aja nah jenis segmen ini kita bedah ya mas market keinginan umum sama contohnya produk elektronik ini marketnya massal semua orang butuh
produk elektronik misalnya handphone, kemudian TV, radio, kemudian LED dan lain sebagainya. Ini mass market. Kemudian yang kedua, mass market, ketergantungan yang tinggi, misalnya supplier dengan prinsipal otomotif.
Contoh kalau niche market ini, misal kalau kita, kalau perumahan ya, perumahan khusus guru, itu sudah niche market, hanya khusus guru saja yang bisa masuk di situ. Spesialis, ya hanya spesial produk gitu ya.
Segmented, pelanggan berbeda selera misalnya jam tangan. Hanya untuk yang kelas atas misalnya. Segmented, hanya untuk kelas atas. Ada kan jam tangan yang miliaran ya? Nah itu segmented, jadi jam tangan yang mengarah pada kelas atas. Atau tadi kalau misalnya perumahan middle up yang angkanya 1 miliar ke atas. Nah itu harus diklasifikasikan. Produk kita masuk ke segmen yang mana?
kelas menengahkah, kelas bawahkah, atau kelas atas. Sehingga nanti kita dalam marketingnya jauh lebih terfokus. Kemudian diversified, jadi ada dua atau lebih pelanggan berbeda, misalnya perumahan dan mal.
Kalau misalnya kita di perumahan itu bisa jadi di dalam perumahan ada dua tipe yang kita jual, misalnya tipe subsidi kemudian tipe komersial. Berarti segmennya ada di middle bawah dan tengah, ada dua kelas yang kita jual.
kemudian yang terakhir multisite platform lebih dari satu pelanggan yang menentukan bisnis model ini jalan misalnya kartu kredit, portal, yahoo dan sebagainya penting untuk menentukan segmen mana yang kita layani pelanggan mana yang penting kita prioritaskan gak boleh kita gak kebayang tentang hal ini karena contoh ini sangat-sangat bermanfaat sekali ketika kita misalnya iklan di meta ads misalnya
Iya nggak sih? Kalau misalnya kita jualan casing iPhone, kita sasarnya yang punya HP Samsung, sasar nggak? Enggak. Nah itulah kita harus betul-betul mengklasifikasikan customer, segmen kita yang mana yang akan kita sasar. Lanjut.
Sudah cukup ya, tentang segmen customer sudah cukup ya. Kalau bisa dirincikan lagi, umur yang disasar umur berapa misalnya, bapak-bapak atau ibu-ibu atau anak-anak. Kalau saya tanya, kalau sekolah segmennya customer-nya siapa kira-kira? Sekolah orang tua ya, bukan anak kecil.
orangtuanya segmennya, jadi maksudnya customer si sekolah ini orangtuakah?
murid-murid bukan anaknya anaknya gak bisa bayar kan anaknya gak bisa bayar kan orangtua yang menyekolahkan anaknya gitu kan nah itu yang perlu kita tergambar dengan baik siapa sasaran kita kemudian apalagi kalau
Ada hunian, apa namanya, dia kayak semacam hunian khusus lansia. Siapa customer-nya? Anaknya. Anaknya. Iya anaknya, karena anaknya yang berbakti untuk orang tuanya.
Oh iya, betul, bisa jadi. Betul, betul, betul. Jadi segmennya seperti apa? Umur, jenis kelamin, kita jualan kerudung. Segmennya laki-laki perempuan, perempuan, itu harus clear betul. Kemudian usia, umur, kemudian apa lagi? Mungkin tingkat pendidikan, itu harus clear betul.
hobi ya bisa jadi kalau misalnya barang kita atau bisnis kita tentang hobi berarti ya harus spesial fokus ke sana misalnya sekarang yang lagi marak apa pedal ya pedal dimana-mana bermunculan ya di kuningan baru satu muncul beberapa bulan berikutnya muncul satu lagi lama-lama nanti nah itu hobi betul hobinya apa berarti hobinya olahraga kita harus clear betul
Lanjut ke dua ya. Jelaskan alasan pelanggan memilih Anda. Nah ini baru masuk ke value. Kita punya value produk kita. Value produk kita apa sih? Contoh tadi packaging misalnya. Kenapa orang lain mau memilih produk kita? Apa yang kita tawarkan untuk yang lain? Kualitas bahan.
Oke, tapi kualitasnya? Oke, kualitas bahannya jauh lebih bagus daripada yang lain. Apakah si customer ini mencari kualitasnya yang bagus? Betul, oke. Nah itu, value-nya harus kita clear betul. Masalah apa yang diselesaikan oleh kita? Dari customer yang ada.
Misal customer kita kalau sekolah ya, ada customer yang butuh penanganan anaknya yang Down Syndrome. Berarti dia butuh apa? Sekolah yang seperti SLB. Dan sekolah-sekolah SLB ini banyak. Bagaimana kita melebihkan sekolah kita daripada sekolah yang lain? Value-nya harus kita naikkan. Apa kira-kira yang kita tawarkan?
Ya bisa, bisa jadi. Antar jemput bisa jadi. Itu betul salah satunya. Ya helper ya, guru pendamping bisa jadi. Jadi kita harus mencari masalah apa yang diselesaikan oleh kita dari kebutuhan customer kita. Bisa jadi ini kita dapatkan dari wawancara atau dari survei.
maka pengusaha itu harus sangat familiar dengan survei-survei di setiap tahun berganti nah itu harus clear betul pergerakan ekonomi kayak gimana kebutuhan market seperti apa gitu itu harus clear betul dan biasanya di update di setiap akhir tahun nah sehingga kita akan membaca nih di bisnis kita akan seperti apa
Saya sempat ngalamin jualan kita itu stuck. Kita masuk di rumah subsidi, 2024 pertengahan bulan kuotanya habis. Nah itu kita harus ngebaca market, ngebaca pergerakan itu. Gimana caranya? Dari analisa para ekonom di akhir tahun, bisa itu menjadi dasar kita. Untuk kita berstrategi atau memiliki penawaran tentang produk kita. Bisa jadi bahkan,
dari model bisnis yang kita punya value yang lain yang bisa kita munculkan di masa-masa tertentu kita punya value beberapa nih dari bisnis kita value yang lain di masa tertentu bisa jadi itu yang kita jauh lebih munculkan hasil apa yang dicari para pelanggan apa pembeda yang relevan kesalahan umumnya adalah hanya menyebutkan fitur produk kita contoh
Hmm...
perumahan itu punya fasilitas clubhouse, kolam renang apalagi misalnya masjid, sports center CCTV hanya menjelaskan tentang itu tapi kita tidak menjelaskan, menyampaikan value-nya apa sih kalau ada CCTV itu seperti apa dan apakah itu menjawab kebutuhan market atau enggak belum tentu dan kita harus menganalisa marketnya butuh atau enggak
kita misalnya nih gini kita kekeh jualan fotografer khusus bayi tapi ternyata di kawasan itu bayinya cuman sedikit maksa kekehoyong kita gak akan bisa bisnis itu berkembang kita harus cari value yang pas dengan market kita lanjut
Nah ini, value proposition adalah kumpulan produk atau jasa yang bermanfaat bagi segmen pasar yang kita bidik. Value proposition adalah alasan mengapa customer memilih satu produk tertentu. Value proposition beda dengan pesaing dekatnya dapat gunakan pendekatan Blue Ocean Strategy atau Blue Ocean.
Kita enggak perlu berperang dengan produk yang sama dengan pesaing kita. Tapi dengan value itu, pesaing kita tidak bisa bersaing dengan kita. Kita harus cari. Ada pertanyaan enggak tentang value proposition? Yang pertama tadi adalah kita mencari customer. Segmentasinya seperti apa, umurnya.
kemudian apalagi misalnya hobinya bisa jadi kebutuhannya laki-laki perempuan dan lain sebagainya segmennya apa pekerjanya seperti apa misalnya kita bisa memfokuskan ke PNS misalnya ke pengusaha bisa jadi kita bisa fokuskan tergantung produk kita kemudian yang kedua apa yang kita tawarkan
apakah menyelesaikan permasalahan customer-customer kita tadi atau tidak kalau belum kita harus cari kita harus cari kalau dulu perumahan subsidi itu
ya sekedar perumahan subsidi aja rumah jadi begitu saja selesai jualan kenceng kalau sekarang enggak begitu sekarang market itu bergeser mencari rumah subsidi yang kualitasnya bagus kawasannya keren nah kalau kita bertahan di produk yang lama kira-kira bisnis berkembang enggak enggak kan kalau di produk yang lama
bikin rumah subsidi pokoknya asal jadi ketika sebulan ditinggalin pada Bobrok itunya kan kalau zaman dulu begitu ya jadi rumah subsidi itu untuk di renovasi kan kalau sekarang market kita itu bergeser dia mencari produk yang bagus kawasannya keren kalau kita bertahan di model awal kira-kira berkembang gak bisnis kita
enggak maka kita harus melihat marketnya seperti apa kemudian value-nya akan menyelesaikan permasalahan market kita atau enggak oh yang value proposition berarti maksudnya adalah kita tawarkan untuk market kita nilai apa yang bisa kita tawarkan untuk market kita Bapak bisnisnya apa
Nah, jualannya apa? Quran. Jualan Quran. Nah, Bapak perlu berpikir gimana caranya Quran ini laku.
value apa atau nilai apa yang Bapak bisa tawarkan kepada customer Bapak misalnya keunggulannya betul keunggulannya apa misalnya saya antarkan langsung ke rumahnya itu salah satu value atau Qurannya dipackaging dengan baik itu salah satu keunggulan atau
Di Qurannya bisa custom nama, itu salah satu keunggulan. Jadi cari-cari keunggulan yang membedakan produk kita dengan yang lain. Hurufnya berada, ada tajwidnya. Iya targetnya tergantung customer kita.
Kalau mahasiswa kan butuhnya yang kecil-kecil ya, tergantung market kita nanti. Ada lagi? Bisa?
bisa cuma nantinya kita harus bisa melihat mana kuantiti market yang paling besar dan itu cost kita masuk ke sana lebih besar jangan sampai kita samain tuh market kita 80% yang misalnya yang mahasiswa yang lansia 20% kita sama-sama 50-50 jangan
effortnya enggak sesuai dengan nanti hasilnya nanti bisnisnya dipegang dua-duanya bisa tetap cuman kan itu dari sisi segmen tadi ya cuman nanti ke arah strategi aja akhirnya ke arah strategi aja nanti ya betul contoh saya punya perumahan di perumahan saya itu subsidi 90% komersil 10% dua-duanya dijalanin cuman kalau
Sales kita, strategi bisnis kita 50% di dua tipe itu akan kalah nanti, akan keteteran. Harusnya kan ngabisin dulu yang subsidi, karena 50% bisnis kita subsidi kan daripada yang komersial. Ya betul, yang memberikan revenue paling besar kepada bisnis kita, kita harus cari apa itu.
ada lagi tentang keunggulan yang bisa kita tawarkan kepada market kita dan jangan sampai keunggulan itu enggak pas dengan market kita contoh yang pengalaman saya itu di Kuningan itu kan sebetulnya agamis ya kota-kota yang agamis
Cuma ketika kita naikin branding perumahan islami ternyata tidak berdampak powerful. Ya mereka beda dengan kawasan perkotaan. Karena masih pedesaan, karena sudah agamis. Berbeda kalau misalnya perkotaan. Kalau perkotaan kan yang mencari agamis itu jarang. Akhirnya orang-orang yang agamis mencari lingkungan yang agamis. Kalau di Kuningan kondisinya sudah agamis. Bukan masalah buat mereka.
sehingga kita harus mencari keunggulan yang benar-benar pas dengan customer kita, jangan sampai kita kekeh saya mah ada developer property Islam kekeh, ya mau maju-maju rumah makan Sunda yang ada di Bandung rumah dan makanan beda karena kan orang Sunda butuh makan orang Sunda di lingkungannya butuh makan
Iya, betul. Ada yang lain? Cukup ya? Kita punya 15 menit lagi. Lanjut, slide berikutnya. Ini baru tiga ya Allah.
masih banyak sampai 9 kan kita temui pelanggan di jalur yang mereka gunakan nah kita sudah punya produk kita sudah punya keunggulan dari produk kita kita sudah punya customernya nah sekarang tugas kita gimana caranya kita menghubungkan antara produk dengan customer channelnya apa lewat apa kira-kira informasi produk ini nyampe ke customer lewat apa coba? Mersos
Presentasi langsung bisa. Selembaran, brosur gitu, flyer ya. Spanduk. Buka toko, ya bisa. Itu sebagai, ya etalase ya. Etalase offline.
Cari media sosial yang pas, kira-kira yang powerful, sehingga produk kita ini bisa sampai informasinya kepada konsumen kita. Kita punya produk bagus, sebagus-bagusnya produk kita, enggak ada saluran, kejual enggak.
Gagal, gak kejual. Kita udah ngebuat packaging yang bagus misalnya, value-nya luar biasa lah gitu ya. Tapi ini tidak sampai informasinya ke customer. Kira-kira mau ada yang minat gak?
Gak ada yang minat. Maka yang pertama adalah temukan channel supaya informasi produk ini sampai ke customer. Informasi produk ini sampai ke customer. Tadi ada Medsos, Gemeta Ads, Google Ads, TikTok. Sekarang banyak main live ya? Sampai jam 12 malam jualan perumahan ada itu sekarang.
saya iseng tuh jam 12 malam ngeklik live nah jadi sebagus-bagusnya produk kita kalau kita enggak nyampein ke customer kita produk kita tidak akan pernah laku carilah channel yang bisa yang pas untuk produk kita mau nge-live mau pakai ads mau pakai brosur mau flyering mau canvassing cari tuh didetailin kira-kira apa gitu
kita lanjut ya, kita lanjut nih supaya cepat aja nih channel adalah cara organisasi berkomunikasi dan menyampaikan value proposition yang dijanjikan media apa yang dipakai membantu pelanggan dalam tahap
awareness bagaimana sebuah organisasi memperkenalkan produk atau jasa kita nih banyak rencana nih jadi tidak hanya informasi itu dapat ke customer tapi bagaimana yang pertama itu informasi betul kemudian evaluation bagaimana organisasi itu paham produk itu diterima dengan baik atau tidak sehingga kita bisa
berinovasi ya enggak misal apa tadi packaging tadi kan dapat feedback tuh kualitasnya kurang oke nih boleh enggak bahannya lebih oke itu kan evaluasi itu nah gimana caranya kita dapat evaluasi itu dari customer yang ketiga purchase bagaimana pelanggan bisa membeli produk atau jasa organisasi kita atau perusahaan kita
Contoh, masukin ke Shopee, Tokopedia misalnya, atau marketplace yang lain. Jadi mereka bisa mengakses untuk meng-order, atau ketika kita iklan, masuk iklan itu masuk ke WhatsApp misalnya.
Lanjut, delivery. Bagaimana organisasi menyerahkan value proposition tadi atau keunggulan yang kita tawarkan tadi ke pelanggan. Kita punya produk tadi packaging. Teman-teman kalau misalnya punya produk ini boleh nanti share ke saya, kira kita akan berdah.
Kira-kira packaging ini sampai ke pelanggan gimana? Pakai Grab misalnya, pakai Gojek misalnya, pakai apa? Itu kita harus pikirkan. Dan dengan layanan delivery ini, apakah sudah paling murah, paling efisien atau tidak? Paling cepat atau tidak?
kan namanya customer gitu ya kita sebagai customer pinginnya cepat murah gitu kan ya udah pingin cepat murah udah pingin bagus murah layannya luar biasa kan gitu nah yang terakhir after sales bagaimana organisasi menangani layanan purna jual nah ini perlu ada channelnya kita nyindiyain misalnya
customer service jadi kalau misalnya ada apa-apa orang bisa kontak ke customer service kita komplain dan lain sebagainya itu sehingga pernah jualnya bagus setelah kita jual dan akhirnya akan ada repeat order
Besarnya penjualan itu bukan hanya pada penjualan awal kita, tapi setelah jualan itu apakah dia repeat atau enggak. Kali banyak, kali sering. Lanjut.
Ya udah ke gambar lah ya Udah ke gambar ya Masuk ke nomor empat Rancang hubungan sebelum dan setelah transaksi Nah ini namanya Customer relations Bagaimana membangun kepercayaan Bagaimana pelanggan dibantu Apa yang mendorong mereka bertahan Repeat order tadi Customer relations Kita punya program apa Supaya customer kita itu
Setia. Tidak ada kesetiaan tanpa kesetiaan. Kalau kita mau setia, eh kalau orang lain ingin setia, kita harus setia juga. Gitu ya? Betul ya? Kan ada ya? Insya Allah setianya kan? Lanjut. Lanjut. Nah,
CR atau customer relations adalah cara sebuah organisasi, perusahaan, mengakrabkan hubungannya dengan pelanggannya. Punya program apa kita dengan pelanggan kita? Kalau misalnya sekolah, pelanggan kita kan orang tua ya, nah sekolah harus punya program khusus sama orang tua. Bikin apa sih, pom ya, kalau orang tua.
POMG orang tua, murid misalnya bikin POMG kemudian bikin event itu membangun relationship
akuisisi pelanggan baru ini tujuannya akuisisi pelanggan baru mempertahankan pelanggan lama meningkatkan penjualan ke pelanggan lama setelah orang tua murid itu puas kira-kira rekomendasi enggak rekomendasi minimalnya anak yang keduanya
Iya kan? Oh iya itu salah satu program tuh, Customer Relations itu. Minimal anak keduanya, anak ketiganya. Kalau enggak ya kakaknya punya anak, ini bagus nih sekolah ini, kan gitu ya. Di Cimahi banyak ya sekolah Islam ya.
Nah mereka akan berperang program tuh customer relationship-nya apa. Mereka akan banyak. Karena tadi dengan customer yang sudah ada itu yang paling mudah sebetulnya bagaimana meningkatkan penjualan. Mudah sebetulnya. Kalau customer kita sudah puas, dia yang akan merekomendasikan kepada yang lain. Gitu.
lanjut customer relationship beberapa contohnya nih bantuan pribadi contoh ada email ada tatap muka ada diskusi bantuan pribadi yang khusus contoh personal banking personal banking kayak ini kalau di bank-bank itu kan ada prioritas ya
nasabah prioritas jadi pada angka-angka tertentu itu dikasih status sebagai nasabah prioritas fasilitasnya itu berbeda dengan yang lain kalau misalnya masuk ke bandara dia dikasih tempat yang khusus
Dan dia di beberapa bank sudah disiapkan tempat meeting room yang khusus nasabah prioritas. Contoh satu-satu contoh. Jadi kalau misalnya dia mau meeting sama mitra bisnisnya, bisa langsung di tempat nasabah prioritas di bank-bank yang ada di kota tersebut.
Hai contoh self-service Hai contoh swalayan dirancang agar mudah dan menyenangkan ada yang self-service sekarang Hai apa pom bensin ya meskipun ngeriutkan itu pom bensin self-service karena bisa di di SPBU ini biasanya di SPBU itu ya panas fresh area ya
Kalau kelebihan, enggak sudah sistem kan itu enggak akan mungkin kelebihan. Kalau saya malah kemarin ini juga teringat perjuangan dulu mahasiswa. Saya di DPD Kuningan itu, ibu-ibu itu para umahat bikin warung kejujuran. Di situ ada kuris self-service, ngambil bayar sendiri gitu, itu self-service.
lanjut membangun komunitas membangun komunitas ya selesai tadi mungkin ya komunitas orang tua kemudian komunitas kalau misalnya perumahan berarti ada apa namanya kalau warga tuh ada apa namanya
ya ada komunitas warga lah ya nah itu membangun komunitas kalau saya pernah ada produk-produk tertentu yang memang itu ada komunitasnya itu bisa juga dibuatkan seperti itu merancang bersama contoh youtube nah ini contoh bisa gini
kita punya produk kemudian bangun adjustment para customer kita dengan mengkontenkan produk-produk kita kemudian kita kasih feedback setiap konten kita kasih sekian rupiah misalnya itu bisa juga mereka kan memasarkan dengan penuh ketulusan karena dia
betul-betul menikmati value kita kan ya dan kita tambahkan value berupa uang misalnya lanjut banyak program yang bisa teman-teman kembangkan yang kelima pastikan nilai berubah menjadi pendapatan nah ini adalah revenue stream contoh contoh contoh revenue stream contoh saya punya lahan
Nganggur, saya punya lahan nganggur. Lahan ini strategis di tengah kawasan perumahan yang ramai misalnya. Itu kan berarti ada value proportionnya adalah lahan yang strategis di tengah kawasan yang ramai kan gitu ya.
Saya cari customer, customer-nya adalah yayasan pendidikan. Ini contoh case, yayasan pendidikan. Value-nya sudah ada, customer-nya yayasan pendidikan. Kemudian programnya, misalnya yang bisa mengelola lahan ini saya gratiskan selama lima tahun.
misalnya, contoh kemudian tadi produk sudah, customer sudah value, apa CR-nya sudah, sekarang apa tadi, delivery-nya bagaimana saya hubungin itu, saya punya relasi iasan-iasan, saya ketemu saya ketemu, saya ketemu, misalnya nah, revenue stream-nya kira-kira apa punya lahan ada iasan nah, sewa itu revenue stream
Ada lahan, ada yayasan, pendapatannya dari sewa. Ada produk packaging, ada customer, pendapatannya dari jualan produk packaging. Jadi beda-beda setiap produk, ada sewa, ada jual-beli, banyak revenue streamnya tergantung produknya. Bisa dipahami ya? Lanjut ya.
Nah kalau
Netflix itu dari jualan paket per bulannya. Menggambarkan bagaimana organisasi memperoleh uang. Ada dua jenis revenue stream. Transaction revenue. Pelanggan membayar satu kali. Langsung jual beli. Satu kali. Ada recurring revenue. Atau pelanggan membayar berulang kali. Saya bikin kos-kosan. Saya bikin kos-kosan. Saya jual ke investor.
kira-kira bisa recurring income enggak sekali apa dua kali apa berkali-kali berkali-kali yang bilang satu karena hanya jualan aja gitu ya ke investor yang berkali-kali karena ada sewa
Bisa satu kali ketika kita lepas kos-kosan itu langsung ke investor, lepas begitu saja, bisa berkali-kali, bisa buka dua berkali-kali. Gimana caranya? Saya lepas ke investor, kemudian saya MOU dengan investor untuk saya kelola.
Nah berkali-kali itu, jadi ada dua, ada sekali jual beli, ada yang recurring income berkali-kali. Nah dari produk teman-teman bapak ibu semua yang mana? Yang hanya sekali saja atau bisa berkali-kali?
Contoh, menjual aset, produk, misalnya rumah, mengutip sewa, misalnya sewa apartemen, mengutip biaya berlangganan, kita ada yang produknya berlangganan enggak? Misalnya punya aplikasi, itu bisa berlangganan kan? Punya aplikasi jualan software, itu bisa berlangganan. Memberikan lisensi, kalau lisensi itu kayak
franchise nah itu lisensi seperti franchise menyediakan ruang beriklan seperti kita punya website punya media kita buka untuk iklan dan sumbangan sumbangan itu contohnya apa kalau sumbangan
Kehormat zakat, amal madani, itu revenue-nya dari sumbangan, dari infak sedekah, ziz, zakat infak sedekah. Itu harus clear, kira-kira revenue teman-teman itu apa. Misalnya sumbangan, sumbangan pun harus jelas, clear sumbangan apa itu.
Kalaupun misalnya programnya sudah ada, misalnya di value propositionnya sudah jelas. Saya kurang paham ya kalau amal-amal ini programnya apa saja. Misalnya ada program...
Pokoknya ZIS gitu ya. Di revenue streamnya pun harus clear. Satu-satu value itu revenue-nya apa? Setiap value yang kita tawarkan itu revenue-nya apa? Harus jelas. Kalau sisi yang kanan sudah selesai ya. Ada pertanyaan enggak? Jadi kita sudah clear barang kita itu seperti apa.
kustomernya siapa, cara menyampaikan ke kustomernya bagaimana, ngiklannya seperti apa, menyampaikannya bagaimana, programnya seperti apa, kita dapat apa. Clear ya? Propertinya apa Pak? Jual kayak prologue gitu ya? Kayak agensi atau sebagainya.
menjual, kayak agensi begitu, bukan agensi ya. Solusinya kira-kira apa ya? Solusinya branding, branding kita. Jadi sebetulnya bisnis ke depan itu adalah personal branding kita yang harus kita kuatkan sebetulnya. Nah ini salah satu ilmu yang saya dapatkan dari guru itu,
Kalau orang melihat kita, kita harus kegambar, oh rumah ya, oh ayam. Apa itu?
Jadi orang melihat kita itu, oh sekolah. Kita harus rajin memang. Setiap aktivitas kita itu mengarahkan kepada sana. Kita posting, kita komunikasi, kita bergaul, kita harus begitu. Dan enggak ada cara lain. Memang harus menguatkan branding kita untuk apa yang kita jual. Kalau kita menjual dengan yang kita tidak memiliki kapasitas itu, orang lain belum tentu juga
percaya contoh sekarang kan banyak kasus umroh yang enggak berangkat gitu ya pada nawarin tuh umroh kira-kira kita langsung percaya enggak enggak apa yang kita lakukan cari tahu nih ini orangnya bener enggak gitu kan ya cari tahu apa perusahaannya bener enggak gitu jadi berangkat atau enggak
Kalau kita sudah kelihatan dan kita sudah membranding diri setiap ketemu, kita cerita tentang umroh, kemudian perjalanan-perjalanan kita di medsos, medsos kita, kita posting tentang umroh, itu akan menguatkan branding, itu yang akan menguatkan jualan kita.
Terus saja kita melakukan branding personal kita. Karena kalau kita ngasih akun yang fake, ketika kita besar, akun fake itu yang besar dong, kitanya enggak besar. Pada saat saya mengawali bisnis property itu,
orang lain gak kenal saya tapi bagaimana kita menyambung dengan komunitas silaturahim akhirnya dipercaya ada investor masuk akhirnya akhirnya akhirnya gitu karena proses kita tidak bisa langsung instan untuk menjadikan bisnis kita besar ini kita sisi kanan aja dulu oke cepat aja ya baik kita masuk ke sisi kirinya kita masuk ke key resource nah tadi kan kita udah dapet nih yang kita jual apa marketnya siapa
Dan kita akan menghasilkan apa gitu ya? Dan caranya bagaimana untuk memaintain?
Nah sekarang bagian kanan adalah gimana caranya menjalankan bisnisnya. Dan goalsnya ketika bisnis itu berputar, cost apa yang keluar. Itu harus clear. Pertama adalah key resource. Key resource itu adalah aset atau sumber daya penting yang memungkinkan bisnis model bisa berjalan dengan baik. Resource apa, sumber daya apa yang dibutuhkan bisnis agar bisnis itu berputar.
Contoh, aset fisik, uang, intelektual, manusia, budaya, tata nilai, aset, sumber daya ini bisa dimiliki organisasi atau disediakan oleh key partner mitra bisnis. Aset fisik, uang, intelektual, manusia, budaya, kerja. Nah ini resource kita yang harus kita miliki. Bisnis, enggak ada uang bisa jalan enggak?
Bisa enggak? Enggak ada uang, bisa enggak? Bisa enggak? Enggak bisa ya? Enggak bisa. Secara prinsip bisnis itu bisa jalan tanpa uang, tapi harus ada aset sumber daya lain yang menjalankan. Berarti partner kita punya duit untuk biaya bisnis, bukan kitanya.
Ya punya partner yang punya bisnis, punya partner yang punya duit, punya uang. Jadi saya dulu ngawalin bisnis itu gak pakai uang memang, tapi bagaimana kita menjaga relationship dengan partner kita, akhirnya dia memberikan kepercayaan kepada kita dan memberikan lahannya untuk digarap. Memang pada prinsip kitanya sendiri gak perlu punya uang, tapi bagaimana kita mengajak orang lain yang punya uang untuk masuk ke dalam bisnis kita.
Yang terakhir itu aset atau sumber daya ini bisa dimiliki organisasi atau disediakan oleh key partners atau mitra bisnis kita.
Nah ini harus kita temukan, kira-kira ada yang mau ngasih contoh bisnis yang lain? Handmade, coba handmade kita bedah ya, resourcenya apa saja yang dibutuhkan? Desain, desain, desainnya ya, oke desain, terus mesin, ya betul mesin betul.
Bahannya, kainnya betul. Oke, betul. Product development, ya betul. Nah itu key resource-nya. Kira-kira sumber daya apa yang bisa bisnis ini berjalan. Tim dan sistem, betul. Kita punya SDM, kemudian ada sistem supaya SDM ini berjalan dengan baik. Itu resource juga. Resource yang kita butuhkan.
Itu jauh lebih baik malah ada sistemnya, keren. Kalau SDM tambah sistem, kita malah nanti capek sendiri kita. Kalau enggak ada sistem, capek sendiri. Akhirnya setiap urusan kita turun sendiri kalau enggak ada sistem. Lanjut ya, lanjut.
Yang tujuh, fokus pada aktivitas yang menciptakan nilai. Dari sumber daya tadi yang kita sudah siapkan, aktivitas apa yang bisnis ini bisa berjalan? Tadi desain, orang ngedesain, orang ngedevelop desain-desain baru misalnya. Itu aktivitas inti.
Kemudian setelah itu produksi, sebelumnya berarti R&D dulu kan, riset dulu ya, riset dulu. Setelah di riset, oh ini produk yang laku kayaknya, oke design. Setelah design, produk, kita produksi. Setelah produksi ngapain?
QC betul, kita kualitasnya bagus nggak nih? Setelah kualitasnya oke, kita ngapain? Packaging, selangkap packaging, packaging apa? Nggak dijual.
kemudian jual dulu ya jual setelah jual sampailah kepada customer kita nah itu adalah aktivitas kunci dan kita butuh clear aktivitas-aktivitas apa saja yang ada di bisnis kita kalau di perumahan gimana perumahan kalau perumahan berarti
beli dulu aset tanah kemudian izin dulu setelah izin bikin desain setelah bikin desain
KT Enfield, pembangunan, pemasaran, seterah terima, pembangunan tadi rumah contoh. Jadi harus tergambar semua prosesnya. Jangan sampai yang kita punya bisnis tapi kita enggak paham bisnis kita. Jangan sampai begitu. Misal contoh ada customer nanyain, Pak ini gimana sih? Kalau gini-gini, oh iya kayak gimana ya? Jangan sampai begitu. Nanti
Customer kita lari ke yang lain, orang yang punya bisnis saja enggak paham bisnisnya kan gitu. Kita harus paham bisnis kita. Lanjut.
Dua lagi. Contohnya supply chain, delivery, problem solving, ini aktivitasnya. Contohnya, tadi sudah saya sampaikan juga contohnya. Lanjut, sekarang yang ke-8. Sekarang adalah key partners, partner kunci kita di dalam bisnis kita itu apa saja.
Kalau tadi saya sudah jelasin, saya menjalankan bisnis, saya butuh investor. Investor, partner kunci kita. Siapa lagi? Supplier, bisa. Siapa lagi? Kontraktor. Siapa lagi? Jasa ekspedisi, bisa. Itu jadi partner kunci kita.
Paham ya? Bagaimana cara bisnis ini berjalan dengan baik dengan partner-partner kita. Bisnis berputar, pihak ketiga mencampuri urusan kita agar bisnis kita berjalan dengan baik. Lanjut.
Keep partnership, sudah. Lanjut, lanjut aja sudah ke gambar. Nah terakhir, maka dari sekian banyak sumber resource tadi, kemudian aktivitas tadi, partnership tadi, bisnis berjalan enggak? Berjalan. Nah dengan aktivitas sumber dan partner itu akan mengeluarkan cost.
Itulah cost structure. Kalau kita bermitra dengan seseorang, keluar cost enggak? Keluar fee marketing misalnya. Karena kita bermitra dengan agensi. Kita punya bisnis fotografer, ngasih fee enggak sama kepala sekolah misalnya?
kalau urusannya bisnis bisa jadi kita bisa aja tapi masuk secara kehiasan terang-terangan nah itu fee marketing itu kos keluar misal sama supplier kalau supplier masuk kemudian kita enggak bayar langsung biasanya kosnya lebih besar atau enggak
lebih besar kita misalnya saya bayarnya 3 bulan ya ada cost tambahan enggak ada cost tambahan itu cost itu masukin cost structure yang kita butuhkan kemudian partner itu partner ya tadi key resource yang lain adalah SDM butuh cost structure apa kira-kira SDM kalau kita punya SDM ada cost yang keluar apa
Gaji, betul. Bonus, program training. Perlu didetailkan. Semakin detail, semakin baik teman-teman membaca bisnis teman-teman semakin baik menjalankannya. Jangan sampai nanti ada yang kelewat tuh kosnya. Tiba-tiba keluar saat bisnis kita berjalan. Akhirnya bon, boncos, bocor deh dananya di mana-mana. Bawang misalnya.
Ada kos yang tidak kita baca tentang mengupas kulit bawang.
kira-kira bocor enggak bocor yang tadinya kita pikirkan 100 juta bisa jadi hanya 50 juta bisa jadi karena tadi ada kos untuk kita keluarkan untuk mengupas bawang nah gitu ya jadi konstruktornya harus jelas ya dari resource
Tadi misalnya uang, uang itu dapat dari investor, kira-kira kosnya apa? Bagi untung, itu kan kos, harus kita siapin untuk investor. Ada pertanyaan? Sudah sampai sembilan. Ini sudah pas langsung azan. Dan teman-teman sudah dibagi semua formnya, silakan merenung. Bagi yang belum mendapatkan
bisnisnya bisa sambil menonong kira-kira market yang mau disasar apa nih market yang mau disasar produknya apa menyelesaikan solusi market kita atau enggak dan seterusnya dan seterusnya sehingga kita dapatkan revenue revenue itu bahasanya omset penjualan
Nah gimana caranya sekarang untuk memutar bisnis ini ada sumber daya, ada aktivitas, ada partner sehingga akan membutuhkan cost untuk disiapkan untuk bisnis kita.
Sehingga itu nanti kegambar, oh saya untuk jalanin bisnis ini costnya sekian, partnernya ini, sumbernya ini, aktivitasnya ini, marketnya kegambar begini, produknya harus seperti ini.
Nyalurinnya bagaimana? Programnya seperti apa? Insya Allah dengan begitu bisnis kita akan semakin membaik dan growth. Insya Allah. Oke, tapi gak ada kos tambahan? Berarti bukan kos itu, gak ada kos itu. Tapi kalau kosnya kayak gitu coach, kita harus ada gak sih nge-spare, nambahin dana gitu? Karena ada...
Maksudnya kan kalau kita sebagai pebisnis Bisa jadi kan uang yang dibayar kontan Sama 3 bulan itu nilainya jadi gak sama Iya betul, kita harus nyiapin Mungkin kalau tadi kan Kalau Bang Hamdi tadi ngebahas juga Kalau hal kayak gitu bisa jadi cost Tidak terduga yang mungkin bisa kita tambahin Betul, bisa ada yang disiapkan
sama halnya seperti investor misalnya investor kalau misalnya setahun clear selesai ya mungkin segitu aja tapi ternyata berlanjut kemudian maksudnya gak sesuai dengan perencanaan bisa jadi ada restruct atau restrukturisasi investasi marginnya juga akan berubah bisa jadi gitu nah itu harus disiapin
Oke, cukup ya? Ya. Baik, itu dari saya, Hatun Nuhun. Kurang lebihnya mohon maaf. Insya Allah next pertemuan kita bisa bahas jauh lebih dalam. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya, tepuk tangan dulu buat Coach Eka. Baik, saya rasa cukup ya untuk pertanyaan. Mungkin bisa nanti di sesi berikutnya. Dan tentunya ada dua PR ya hari ini dari Bang Hamdi tadi terkait dengan ide.
Hai dicari ide dari hobi dari apalagi tren gitu ya silahkan dicari berada di 80 kemudian dipilih 50 hal apa saja yang berlisan dengan bisnis kita kemudian PR dari Koseka tentunya tadi itu selebaran form itu silahkan diisi dan menjadi syarat masuk kelas di periode berikutnya ya silahkan diisi karena

Tidak ada komentar:
Posting Komentar